
Assistive Technology Partners – Mewarnai rambut telah menjadi tren yang populer di berbagai kalangan untuk tampil lebih menarik atau menutupi rambut beruban. Namun, di balik tampilannya yang menarik, penggunaan produk pewarna rambut ternyata memiliki potensi risiko bagi kesehatan. Artikel ini akan membahas bahaya yang mungkin ditimbulkan dari mewarnai rambut, terutama jika dilakukan secara berlebihan atau tanpa memperhatikan faktor kesehatan.
Sebagian besar pewarna rambut mengandung bahan kimia yang dapat berisiko bagi kesehatan, seperti:
Digunakan untuk membuka kutikula rambut agar warna dapat meresap lebih baik. Amonia dapat menyebabkan iritasi pada kulit kepala, mata, dan saluran pernapasan.
“Baca Juga: Sleep Apnea, Gangguan Tidur yang Mengancam Nyawa”
Zat ini sering digunakan dalam pewarna rambut permanen untuk memperkuat warna. PPD diketahui dapat memicu reaksi alergi, termasuk ruam, gatal-gatal, atau bahkan pembengkakan.
Senyawa ini dapat mengiritasi kulit dan diketahui memiliki efek hormon yang merugikan jika terpapar dalam jangka panjang.
Pewarna rambut dapat memicu reaksi alergi, terutama bagi individu dengan kulit sensitif. Gejalanya meliputi kemerahan, gatal, atau ruam di kulit kepala dan area sekitarnya.
Proses pewarnaan yang berulang dapat merusak struktur alami rambut, membuatnya rapuh, kering, dan mudah patah.
Menghirup uap bahan kimia seperti amonia dan PPD saat proses pewarnaan dapat mengganggu saluran pernapasan, menyebabkan iritasi atau bahkan asma pada individu tertentu.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan bahan kimia dalam pewarna rambut secara jangka panjang dapat meningkatkan risiko kanker, terutama kanker kandung kemih dan limfoma non-Hodgkin.
“Simak Juga: Glutathione, Apakah Aman sebagai Pemutih Kulit?”
Assistive Technology Partners - Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2023 menyebutkan 1,3 miliar orang mengalami bentuk disabilitas signifikan secara global.…
Assistive Technology Partners - Lebih dari 1 miliar orang di seluruh dunia mengalami disabilitas, namun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat…
Assistive Technology Partners - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 1,3 miliar orang atau 16 persen dari populasi dunia mengalami…
Assistive Technology Partners - Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, permintaan terhadap alat bantu mobilitas cerdas melonjak drastis seiring dengan…
Assistive Technology Partners - Data World Health Organization (WHO) 2023 menyebutkan hanya 1 dari 10 orang yang membutuhkan alat bantu…
Assistive Technology Partners - Lebih dari 22 juta penduduk Indonesia tercatat memiliki keterbatasan fungsi tubuh berdasarkan data BPS 2022, namun…